by Karen Kamal

Sandiwara Hidup dan Aktornya

Setiap potongan sandiwara itu hidup
dan kita aktornya
Lembaran-lembaran naskah berbau busuk
Sisanya menjadi penonton, lampu pentas dinyalakan
Bukankah kau takut?

Aku mau jadi penonton saja
Kau malah menamparku,”kita lahir sebagai penghibur!”
Tapi untuk siapa?
Sorot matamu marah
Aku tak yakin, membiarkan kesepian merintih menikmati

Si sutradara selalu mengingatkanku
Sepasang mata perempuan untuk menangis
dan hanya kata-kata manis keluar dari mulutnya
Ia tak tahu, ialah sebongkah hati yang menangis
Dari mulutnya terucap doa sekaligus sumpah serapah
Tergantung peran yang ia mainkan, ia aktor terbaik

Tak terhitung lagi detik dan menit yang bergulir
Jatuh ke tanah seperti tak ada harganya
Yang menunggu diinjak dan dilupakan
Walau ternyata meninggalkan jejak
Bukankah setiap detil masa lalu adalah penyesalan?

Aku ingat dalam tiap ikatan korset yang mengangkat dadaku tinggi-tinggi
Dalam sapuan bedak merah pada tulang pipi dan pemerah bibir
Aku ingat dalam setiap sahutan action!
dan lampu sorot yang membutakan mata
Setiap potongan sandiwara itu hidup dan kita aktornya

 

Ditulis di Jakarta, Indonesia pada tanggal 15 Mei 2012



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *