by Karen Kamal

Recent Posts

Sandiwara Hidup dan Aktornya

Setiap potongan sandiwara itu hidup dan kita aktornya Lembaran-lembaran naskah berbau busuk Sisanya menjadi penonton, lampu pentas dinyalakan Bukankah kau takut?

Tato Kupu-Kupu

Keduanya memiliki mata sayu kecoklatan yang indah. Mereka saling menyayangi walau terkadang mereka bertengkar. Mereka tertawa pada lelucon kecil yang paling mereka sukai, pada pria-pria yang memohon cinta mereka. Andien, gadis muda yang mandiri. Ia tidak akan pernah takluk pada pria manapun, apalagi untuk memenuhi […]

Siapa Namamu?

Orang-orang memanggilku bayangan
Kau menamaiku cinta
Kita lupa kapan pertama kali bertemu
Tapi kita tak terpisahkan
Layaknya detik mengikuti menit, menit mengikuti jam

Kau berdiri menghadap si pencatat waktu
saat rindu menerjang, agar bayangan tetap memanjang
Lelah dan air bening di kening jatuh berlomba-lomba pada pipi seperti air mata

(more…)

Diam

  Andai dan jika adalah teman baikku Karena waktu meninggalkanku dengan mimpi dan penyesalan Tubuh berteriak sekencang-kencangnya Namun mulut tetap diam Membiarkan hati hitam gelap karena duka Kutulis sajak dan berpuisi

Mati Bersama

Malam ini kudendangkan lagu tanpa lirik Berpura tenang walau dada berguruh Dua gelas anggur semerah darah diantara kita Kuajak kau membuat sajak terakhir Yang dulu selalu menjadi candu bagi hati sedih Yang adalah iman bagi tubuhku dan nafsuku

Sketsa

Goresan-goresan halus di atas putih
Suaranya lembut saat butiran arang itu menyentuh muka kertas
Ia biarkan tangannya terus bergerak
Mengikuti hati, mengikuti rasa

Malam itu rembulan hampir penuh
Ia mundur untuk memandang sketsanya
Seorang gadis yang tak ia kenal tersenyum padanya (more…)