Sandiwara Hidup dan Aktornya
Setiap potongan sandiwara itu hidup dan kita aktornya Lembaran-lembaran naskah berbau busuk Sisanya menjadi penonton, lampu pentas dinyalakan Bukankah kau takut?
by Karen Kamal
Setiap potongan sandiwara itu hidup dan kita aktornya Lembaran-lembaran naskah berbau busuk Sisanya menjadi penonton, lampu pentas dinyalakan Bukankah kau takut?
Keduanya memiliki mata sayu kecoklatan yang indah. Mereka saling menyayangi walau terkadang mereka bertengkar. Mereka tertawa pada lelucon kecil yang paling mereka sukai, pada pria-pria yang memohon cinta mereka. Andien, gadis muda yang mandiri. Ia tidak akan pernah takluk pada pria manapun, apalagi untuk memenuhi […]
Orang-orang memanggilku bayangan
Kau menamaiku cinta
Kita lupa kapan pertama kali bertemu
Tapi kita tak terpisahkan
Layaknya detik mengikuti menit, menit mengikuti jam
Kau berdiri menghadap si pencatat waktu
saat rindu menerjang, agar bayangan tetap memanjang
Lelah dan air bening di kening jatuh berlomba-lomba pada pipi seperti air mata
Andai dan jika adalah teman baikku Karena waktu meninggalkanku dengan mimpi dan penyesalan Tubuh berteriak sekencang-kencangnya Namun mulut tetap diam Membiarkan hati hitam gelap karena duka Kutulis sajak dan berpuisi
Malam ini kudendangkan lagu tanpa lirik Berpura tenang walau dada berguruh Dua gelas anggur semerah darah diantara kita Kuajak kau membuat sajak terakhir Yang dulu selalu menjadi candu bagi hati sedih Yang adalah iman bagi tubuhku dan nafsuku